Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Jawa Timur berkolaborasi dengan Universitas Indraprasta PGRI Jakarta menggelar Gelar Budaya Widya Mwat Yasa “Wayang Kulit” pada 3 Januari 2026 di halaman Gedung Twin Tower Menara Wimaya UPN Veteran Jawa Timur. Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen perguruan tinggi dalam melestarikan budaya bangsa sekaligus memperkuat peran kampus sebagai ruang edukasi, kebersamaan, dan pengabdian kepada masyarakat.
Mengusung tema Gelar Budaya Widya Mwat Yasa, pagelaran wayang kulit ini tidak sekadar menjadi hiburan, tetapi juga sarana refleksi nilai-nilai kehidupan. Wimaya dimaknai sebagai “Menuntut Ilmu untuk Pengabdian kepada Bangsa dan Negara dengan Hati yang Suci dan Tulus Ikhlas”, sebuah filosofi yang sejalan dengan jati diri UPN “Veteran” Jawa Timur sebagai kampus bela negara.
Pagelaran dibagi dalam dua sesi, siang dan malam, dengan menghadirkan dua dalang muda sebagai simbol regenerasi seni tradisi. Pada pagelaran siang, Ki Danesworo Rafi Ramadhan membawakan lakon Sugriwo Subali. Kisah ini mengangkat konflik dua bersaudara yang sarat akan pesan kepemimpinan, kejujuran, serta pentingnya kebijaksanaan dalam mengambil keputusan. Melalui alur cerita yang komunikatif, lakon tersebut mengajak penonton—khususnya generasi muda—untuk memahami bahwa kekuasaan tanpa kebijaksanaan hanya akan melahirkan perpecahan.

Sementara itu, pada pagelaran malam, Ki Herjuno Pramariza Fadlansyah menampilkan lakon Sang Bima. Tokoh Bima digambarkan sebagai ksatria yang menjunjung tinggi kejujuran, keberanian, dan keteguhan prinsip. Lakon ini menyampaikan pesan moral tentang integritas dan konsistensi dalam menegakkan kebenaran, nilai yang relevan dengan kehidupan akademik maupun pengabdian kepada masyarakat.
Rektor UPN “Veteran” Jawa Timur, Prof. Dr. Ir. Akhmad Fauzi, MMT., IPU, dalam sambutannya menyampaikan bahwa wayang kulit memiliki peran strategis dari berbagai sisi. “Wayang kulit dapat kita lihat dari beberapa sisi. Pertama, sebagai hiburan yang menghadirkan kebersamaan antara kampus dan masyarakat sekitar. Kedua, sebagai warisan budaya yang menyimpan kebijaksanaan dan nilai-nilai hidup yang kita rawat bersama. Dan ketiga, sebagai media pembelajaran, tidak hanya bagi generasi muda, tetapi juga bagi kita semua, para pendidik dan tenaga kependidikan, untuk terus merefleksikan nilai-nilai kehidupan dalam keseharian,” ujarnya.
Lebih lanjut, Rektor menegaskan bahwa pelibatan dalang muda dalam kegiatan ini menunjukkan bahwa wayang kulit tetap memiliki ruang dan masa depan di tangan generasi muda. Hal tersebut selaras dengan semangat UPN “Veteran” Jawa Timur dalam mendorong regenerasi, inovasi, dan keberlanjutan, baik dalam bidang akademik maupun kebudayaan.

Kolaborasi antara UPN “Veteran” Jawa Timur dan Universitas Indraprasta PGRI Jakarta ini juga menjadi contoh sinergi antarperguruan tinggi dalam menjaga dan mengembangkan warisan budaya nasional. Kampus tidak hanya berfungsi sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai penjaga nilai-nilai luhur bangsa agar tetap hidup dan relevan di tengah perkembangan zaman.
Melalui Gelar Budaya Widya Mwat Yasa Wayang Kulit, UPN “Veteran” Jawa Timur berharap dapat mempererat hubungan antara kampus dan masyarakat, sekaligus menanamkan kesadaran bahwa pelestarian budaya merupakan tanggung jawab bersama. Nilai-nilai yang disampaikan melalui lakon Sugriwo Subali dan Sang Bima diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi sivitas akademika dan masyarakat luas dalam menjalani kehidupan yang berintegritas, berbudaya, dan berorientasi pada pengabdian kepada bangsa dan negara.

