Semangat Asean Diperkuat Melalui Kolaborasi Tujuh Universitas Dari Indonesia, Malaysia, Dan Timor-Leste Dalam Proyek Smart Steam Pada Kegiatan Kembara Mobiliti Umpsa Di Timor-Leste 2026

Semangat kerja sama regional di bidang pendidikan tinggi ASEAN terus diperkuat melalui pelaksanaan Proyek Smart STEAM di Sekolah Abafala.

Inisiatif ini merupakan bagian dari Kembara Mobiliti UMPSA @ Timor-Leste 2026 yang diselenggarakan oleh Yayasan UMPSA. Kegiatan tersebut melibatkan perguruan tinggi dari Indonesia, Malaysia, dan Timor Leste, yaitu Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur, Universitas Jember, Universitas PGRI Argopuro Jember, Universitas Moch. Sroedji Jember, Universitas Tidar Magelang, Universiti Malaysia Pahang Al-Sultan Abdullah (UMPSA) dan Universidade de Dili (UNDIL) dari Timor-Leste.

Proyek Smart STEAM yang dilaksanakan pada 18 Agustus 2026 berfokus pada pengenalan pendidikan berbasis Sains, Teknologi, Teknik, Seni, dan Matematika (STEAM) kepada peserta didik Sekolah Abafala melalui pendekatan pembelajaran yang interaktif dan berbasis kegiatan di luar kelas.

Keterlibatan mahasiswa dari tujuh universitas dalam satu proyek ini membuka ruang untuk saling berbagi pengetahuan, keahlian, dan pengalaman dengan peserta didik di Sekolah Abafala. Hal ini sekaligus menjadi wujud nyata pendidikan lintas negara yang sejalan dengan semangat kerja sama ASEAN.

Menurut Muhammad Rusydi Hakim bin Razak selaku Manajer Proyek Kembara Mobiliti UMPSA di Timor-Leste 2026, kolaborasi tersebut tidak hanya mencakup kegiatan akademik, tetapi juga menjadi wadah bagi mahasiswa untuk mengembangkan potensi dan soft skills.

“Intinya, kami ingin ilmu dan pengalaman yang dibagikan dapat memberikan manfaat bagi peserta didik dan komunitas Sekolah Abafala, serta menjadi dasar bagi hubungan dan kerja sama yang dapat terus dikembangkan di masa mendatang,” ujarnya.

Sementara itu, Muhammad Wazien bin Johan selaku Ketua Proyek Smart STEAM menyampaikan bahwa pelaksanaan proyek ini memberikan pengalaman berharga bagi mahasiswa dalam mengelola kegiatan pendidikan di lingkungan yang berbeda.

“Proyek Smart STEAM memberikan kesempatan kepada kami untuk menerapkan pendekatan pembelajaran yang memadukan unsur kreativitas, teknologi, dan pemecahan masalah bersama peserta didik Sekolah Abafala. Di saat yang sama, kami juga ingin memperkenalkan pemanfaatan teknologi agar para siswa lebih memahami perkembangan teknologi yang semakin pesat di dunia,” jelasnya.

Afif Zuhdi Zulkarnain, selaku perwakilan mahasiswa dari lima universitas di Indonesia, menambahkan bahwa pengalaman berkolaborasi dengan mahasiswa dari Indonesia, Malaysia dan Timor-Leste memberikan perspektif baru mengenai pentingnya kerja sama mahasiswa di tingkat regional ASEAN.

“Kolaborasi ini sangat bermakna karena kami dapat bekerja sama dengan mahasiswa dari Malaysia dan Timor-Leste dalam satu proyek. Meskipun berasal dari universitas dan negara yang berbeda, kami memiliki tujuan yang sama, yaitu memberikan pengalaman belajar yang bermanfaat bagi peserta didik di Sekolah Abafala.

Saya berharap hubungan yang terjalin melalui proyek ini tidak berhenti setelah program selesai. Semoga ini menjadi awal dari kerja sama yang lebih luas antara universitas di Indonesia, Malaysia dan Timor-Leste, khususnya di bidang pendidikan, teknologi, dan pengembangan masyarakat,” katanya.

Program ini juga mencakup sejumlah inisiatif pengembangan masyarakat di Kota Dili dan Distrik Baucau, di antaranya Proyek Vertical Farming, Budidaya Ikan, dan Smart Attendance. Program-program tersebut dilaksanakan bersamaan dengan kegiatan kerohanian bersama masyarakat setempat.

Inisiatif ini juga bertujuan memastikan bahwa proyek yang telah dilaksanakan dapat terus dimanfaatkan, dipelihara, dan dikembangkan oleh masyarakat sesuai dengan kebutuhan mereka, meskipun misi telah berakhir.

Lebih dari sekadar program mobilitas mahasiswa, kegiatan ini mencerminkan upaya membangun hubungan antar masyarakat (people-to-people connection) di kalangan generasi muda ASEAN melalui pertukaran pengetahuan, pengalaman, dan budaya. Keterlibatan mahasiswa dari tiga negara juga memberikan ruang bagi mereka untuk mengembangkan soft skills seperti komunikasi, kepemimpinan, kerja sama tim, pemecahan masalah, dan kemampuan beradaptasi dalam lingkungan internasional.