Semangat Hari Santri, Inspirasi dan Tantangan Generasi Muda di Era Digital


Oleh: Mohamad Mirwan (Dosen Teknik Lingkungan  UPN “Veteran” Jawa Timur) 

Setiap 22 Oktober, bangsa ini memperingati Hari Santri Nasional, melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015.  Peringatan ini bukan sekadar upacara tahunan atau pengingat masa lalu. Ia adalah momentum untuk bertanya kembali: nilai-nilai apa yang diwariskan para santri kepada kita hari ini, dan bagaimana nilai itu relevan bagi generasi muda yang hidup di tengah era digital yang semakin kompleks. Peringatan ini yang ditekankan bukan hanya peristiwa sejarahnya, melainkan juga pesan moralnya: meneladani peran ulama dan santri dalam membela tanah air dan mengisi kemerdekaan. Tema Hari Santri tahun 2026, “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”,  mengisyaratkan bahwa santri dan generasi muda  tidak berhenti pada masa perjuangan fisik, tetapi terpanggil untuk menguatkan bangsa menuju cita-cita emas 2045.

Sejarah Hari Santri tidak bisa dilepaskan dari peristiwa 22 Oktober 1945. ketika Indonesia baru berusia dua bulan setelah menyatakan merdeka. Pasukan Sekutu dan Belanda berupaya merebut kemerdekaan yang baru saja diproklamasikan. Dalam situasi itulah, Bung Karno meminta saran kepada Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari bersama para ulama Nahdlatul Ulama untuk menyikapi keadaan yang terjadi, dari sinilah Beliau merumuskan Resolusi Jihad. Resolusi yang lahir dari rapat besar wakil-wakil NU seluruh Jawa-Madura di Surabaya pada 21–22 Oktober 1945 itu menegaskan bahwa kemerdekaan Indonesia wajib dipertahankan; bahwa Republik Indonesia sebagai satu-satunya pemerintahan yang sah wajib dibela dengan harta dan jiwa; dan bahwa umat Islam, tidak terkecuali para santri , wajib mengangkat senjata melawan penjajah yang hendak kembali berkuasa. Seruan itu menggema dari pesantren ke pesantren, dari langgar ke langgar, dan ikut menyulut perlawanan rakyat, termasuk Pertempuran Surabaya November 1945. 

Kini, tantangan yang dihadapi generasi muda jauh berbeda dari tantangan para santri 1945. Tidak ada lagi tank dan ultimatum militer di depan mata. Namun, ancaman terhadap karakter kebangsaan hadir dalam bentuk yang lebih halus: arus informasi tanpa filter, disinformasi, ujaran kebencian, radikalisme yang menyusup melalui ruang digital, budaya instan, konsumerisme, dan menurunnya kesabaran menjalani proses panjang. Radikalisasi tidak lagi selalu datang melalui pertemuan fisik; ia dapat merambat melalui algoritma platform digital yang menjangkau anak-anak dan remaja secara personal dan sulit terdeteksi. Di saat yang sama, generasi muda juga menghadapi ketidakpastian ekonomi, tekanan global, dan disrupsi teknologi yang menuntut kompetensi baru.

Bagi generasi muda hari ini, meneladani santri berarti mengembangkan tiga hal. Pertama, literasi: kemampuan membaca informasi secara kritis, memilah hoaks dari fakta, dan menggunakan media digital untuk hal-hal yang membangun, bukan memecah belah. Kedua, keberakaran: tetap berpegang pada nilai-nilai kebangsaan dan keagamaan yang moderat, tidak mudah terprovokasi oleh narasi yang memecah belah, dan tidak terjebak pada budaya instan yang mengabaikan proses. Ketiga, kontribusi: membuktikan karakter kebangsaan melalui karya nyata—belajar sungguh-sungguh, menguasai ilmu dan teknologi, serta terlibat dalam memecahkan persoalan di sekitar kita, dari lingkungan hingga dunia digital.

Dalam konteks tersebut amanah yang diemban UPN “Veteran” Jawa Timur sebagai kampus Bela Negara tentu bukan hanya simbol, tetapi tanggung jawab untuk ikut membekali dan membentuk karakter anak bangsa. Bela negara tidak semata-mata berkaitan dengan pertahanan militer, tetapi juga ketahanan ideologi, ekonomi, sosial budaya, dan teknologi. Karena itu, kampus Bela Negara memiliki tugas penting untuk menumbuhkan nasionalisme, disiplin, integritas, kepedulian sosial, kemampuan berpikir kritis, literasi digital, serta semangat kolaborasi pada mahasiswa. Nilai-nilai itu sejalan dengan karakter yang ditanamkan pesantren: teguh pada prinsip, moderat dalam sikap, dan nyata dalam pengabdian. Dengan demikian, semangat Hari Santri dan semangat Bela Negara bertemu pada satu titik: membentuk generasi yang cinta tanah air, mampu menjaga persatuan, dan siap berkontribusi bagi kemajuan bangsa.

Hari Santri adalah undangan untuk melihat ke belakang sejenak, agar langkah ke depan lebih mantap. Para santri 1945 membuktikan bahwa kecintaan pada tanah air bukan retorika, melainkan keberanian berkorban. Generasi muda hari ini tidak diminta mengangkat senjata, tetapi diminta melakukan hal yang tidak kalah penting: menjaga akal dari disinformasi, menjaga hati dari kebencian, dan menjaga tangan untuk berkarya bagi negeri. Dengan begitu, semangat 22 Oktober tidak berhenti sebagai catatan sejarah, melainkan hidup dalam karakter generasi yang akan menentukan wajah Indonesia pada 2045.